Mengenal Lebih Jauh Perkebunan Tjikasintoe

Gedung Pengolahan Karet Perkebunan Cikasintu

JAMPANG MEDIA – Perkebunan karet tersebar di beberapa wilayah di Indonesia salah satunya yaitu di Kabupaten Sukabumi. namun tak banyak orang tahu keberadaan dan perkembangan perkebunan karet ini. Perkebunan Tjikasintoe contohnya yang masih beroperasi sampai saat ini.

Perkebunan Karet Cikasintu terletak di Kecamatan Cidadap Kabupaten Sukabumi. Pembukaan areal Perkebunan Cikasintu dilakukan pada tahun 1895. Lahan yang semula diperuntukan perumahan dan pemukiman kemudian pada 1895 dialih fungsikan menjadi lahan perkebunan karet.

Cikasintu sendiri kemudian dijadikan sebagai lokasi penanaman karet pertama di Pulau Jawa. Sekitar tahun 1907 tercatat sebagai Onderneming Tjikasintoe yang dimiliki oleh Tjikasintoe Rubber Estates Ltd., Batavia, dengan Administratur R. B. Fenton. Hak Guna Usaha (HGU) seluas 1.532,27 Ha berdasarkan peta bidang perkebunan cikasintu dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) tahun 1909.

Kemudian pada Maret 1910 didirikan Perusahaan Karet Baru oleh investor asal Inggris dengan nama Kasintoe Rubber Estates, Limited yang mengoperasikan Tjikasintoe melakukan penaman karet besar-besaran di areal perkebunan pada 1940 hingga 1941. Setelah Pemerintah Kolonial Belanda menyerah tanpa syarat terhadap Jepang dalam Perang Pasifik pada tanggal 8 Maret 1942 maka berakhirlah kekuasaan Belanda dan dimulainya Pemerintahan Pendudukan Jepang. Pergantian pemerintahan tersebut berdampak langsung terhadap operasional Perkebunan Cikasintu. Pada kurun waktu 1942-1945 perkebunan cikasintu dibiarkan terlantar dan ditanami dengan tanaman pokok untuk kebutuhan perang.

Tahun 1945 Indonesia Merdeka

Pada tahun 1945 setelah kemerdekaan lahan tersebut dinasionalisasikan oleh pemerintah Indonesia dan digarap oleh masyarakat sampai dengan sekitar tahun 1965. Kemudian investor asal Belanda menguasai perkebunan Cikasintu dengan nama perusahaan NV. Telaga Kantjana yang kemudian berubah menjadi  PT. Telaga Kantjana sejak 1968 dan melakukan peremajaan terhadap pohon karet yang sudah tidak produktif secara menyeuruh, melakukan penanaman pada area kosong termasuk pada sawah dan lahan yang digarap oleh masyarakat sehingga terjadi konflik antara perkebunan dengan masyarakat sengketa garapan lahan. Hingga akhirnya Bupati Sukabumi mengeluarkan Surat Keputusan nomor 08/Kep/Poin/68 tanggal 18 Maret 1968 perihal Penggarapan Tanah Perkebunan Tjikasintu, yang pada intinya menginstruksikan perusahaan untuk menyisihkan garapan masyarakat dengan luas sekitar 165 Ha, namun tetap masuk dalam HGU Perkebunan Cikasintu.

Tahun 1971 HGU Perkebunan Cikasintu berakhir. Kemudian pada tahun 1977, Tim pertimbangan menyetujui pembaharuan HGU PT. Telaga Kencana atas Tanah Perkebunan Cikasintu. Tahun 2001 petani penggarap lahan perkebunan cikasintu mengembalikan garapan dengan pergantian uang ganti rugi untuk kepentingan perpanjangan HGU.

Perkebunan Cikasintu melakukan pembibitan terakhir pada tahun 2008-2009, sampai saat ini belum ada lagi pembibitan atau pembaruan. keadaan Perkebunan Cikasintu saat ini masih peroperasi namun tidak seperti dahulu lagi. Karyawan yang dulunya banyak pun kini kian sedikit.

Perkebunan Cikasintu menurut beberapa sumber menyebutkan akan berakhir di tahun 2023-2025-2027 hinggan ada juga yang menyebutkan tahun 2030, akan tetapi informasi terkait akan berakhirnya perkebunan cikasintu ini belum pasti dan masih simpang siur.

Pos terkait